CNN Indonesia
Jumat, 24 Apr 2026 11:45 WIB
Ilustrasi. Konflik Iran memicu kenaikan harga kondom di China hingga memanting perbincangan luas di media sosial dan mendorong aksi penimbunan. (iStock/chanakon laorob)
Jakarta, CNN Indonesia --
Konflik antara Iran dan Amerika Serikat (AS)-Israel disebut-sebut memicu kenaikan harga kondom di China, memantik perbincangan luas di media sosial hingga mendorong sebagian warga mempertimbangkan aksi menimbun.
Isu ini muncul setelah peringatan dari produsen kondom terbesar di dunia, Karex Bhd, yang berencana menaikkan harga produknya hingga 20-30 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kenaikan tersebut dipicu oleh gangguan rantai pasok global yang diperparah oleh konflik di Iran. Dampaknya tidak hanya dirasakan industri, tetapi juga mulai menyentuh kehidupan sehari-hari masyarakat, termasuk urusan kesehatan reproduksi.
Di China, topik ini langsung viral. Tagar terkait kenaikan harga kondom dilaporkan telah ditonton lebih dari 60 juta kali di platform media sosial seperti Weibo.
Warganet ramai-ramai memberikan respons, mulai dari kekhawatiran hingga candaan, meski sebagian tetap menegaskan bahwa harga bukan alasan untuk mengabaikan penggunaan kontrasepsi.
CEO Karex Bhd, Goh Miah Kiat, menyampaikan bahwa perusahaan akan menaikkan harga sebagai respons terhadap meningkatnya biaya produksi dan distribusi. Ia juga tidak menutup kemungkinan kenaikan lebih lanjut jika konflik Iran terus mengganggu jalur pasokan global.
Karex sendiri memproduksi lebih dari 5 miliar kondom setiap tahun dan menjadi pemasok bagi berbagai merek besar dunia. Artinya, kebijakan harga dari perusahaan ini berpotensi berdampak luas, termasuk di pasar China yang besar.
Gangguan rantai pasok akibat konflik global memang bukan hal baru. Namun, ketika dampaknya mulai terasa pada produk kebutuhan sehari-hari seperti kondom, isu ini menjadi lebih dekat dengan masyarakat dan memicu respons emosional.
Di media sosial China, reaksi publik beragam. Sebagian pengguna menilai kenaikan harga bukan masalah besar dibandingkan biaya membesarkan anak.
"Beberapa puluh yuan untuk kondom jauh lebih hemat biaya dibandingkan membesarkan anak dengan biaya satu juta yuan," tulis salah satu pengguna, seperti dilansir dari The Independent.
Ilustrasi. Konflik Iran memicu kenaikan harga kondom di China hingga memanting perbincangan luas di media sosial dan mendorong aksi penimbunan. (Istockphoto/ PeopleImages)
Namun, ada pula yang mulai mempertimbangkan langkah antisipatif.
"Mulai sekarang kita harus lebih hemat dan mungkin perlu menimbun kondom," tulis pengguna lain.
Hal ini menunjukkan bagaimana isu ekonomi dan kesehatan saling berkaitan. Kenaikan harga kontrasepsi tidak hanya berdampak pada konsumsi, tetapi juga berpotensi memengaruhi keputusan keluarga.
Kenaikan harga kondom terjadi di saat yang sensitif bagi China. Negara tersebut tengah menghadapi penurunan angka kelahiran yang telah berlangsung selama beberapa dekade.
Pada 2025, jumlah kelahiran tercatat hanya 7,92 juta, turun 17 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Pemerintah China sebenarnya sedang berupaya meningkatkan angka kelahiran melalui berbagai kebijakan. Namun, biaya hidup yang tinggi dan tekanan ekonomi membuat banyak pasangan menunda atau bahkan menghindari memiliki anak.
Dalam hal ini, kenaikan harga alat kontrasepsi justru menambah kompleksitas. Di satu sisi, kondom tetap menjadi kebutuhan penting untuk kesehatan reproduksi. Di sisi lain, meningkatnya biaya dapat menjadi beban tambahan bagi masyarakat.
Situasi semakin diperumit dengan kebijakan pemerintah China yang mencabut pembebasan pajak untuk alat kontrasepsi di awal tahun. Kini, kondom dan pil KB dikenakan pajak pertambahan nilai sebesar 13 persen setara dengan barang konsumsi lainnya.
Kedua hal ini, antara kenaikan harga dari produsen dan kebijakan pajak domestik membuat biaya kontrasepsi berpotensi meningkat.
(nga/asr)
Add
as a preferred source on Google

8 hours ago
2

















































