Jakarta -
Tidak semua destinasi wisata mempertahankan popularitasnya dari waktu ke waktu. Beberapa destinasi wisata yang dulu selalu ramai, kini justru terasa lebih lengang.
Ada yang perlahan ditinggalkan karena perubahan tren liburan, ada pula yang terdampak biaya, akses, hingga kebiasaan baru para wisatawan.
Salah satu penyebab tempat wisata jadi sepi juga karena adanya pandemi COVID-19. Meski begitu, sepinya wisatawan tidak serta-merta menghapus daya tarik yang dimiliki tempat-tempat ini.
Justru, suasana yang lebih lengang memberi pengalaman berbeda. Destinasi yang dulu harus dinikmati di tengah keramaian kini bisa dieksplor dengan lebih leluasa.
Berikut enam destinasi wisata yang kini kian sepi turis, termasuk salah satunya di Indonesia.
1. Colca Canyon, Peru
Colca Canyon terletak di Provinsi Caylloma dan dapat ditempuh sekitar empat jam perjalanan dari Kota Arequipa. Ngarai ini dikenal sebagai salah satu yang terdalam di dunia, bahkan disebut lebih dalam dibanding Grand Canyon di Amerika Serikat. Meski begitu, nama Colca Canyon kini tak lagi sepopuler destinasi alam besar lainnya di Amerika Selatan.
Akses menuju kawasan ini umumnya dilakukan melalui tur terpandu, mengingat medan yang cukup menantang dan jaraknya yang tidak dekat dari pusat kota. Meski begitu, penurunan jumlah wisatawan membuat Colca Canyon terasa jauh lebih tenang, sehingga cocok bagi pencinta alam yang ingin menikmati pemandangan tanpa hiruk-pikuk.
Keindahan Colca Canyon tetap tak berubah. Selain panorama pegunungan dan lembah yang dramatis, wisatawan masih bisa menyaksikan Andean Condor, burung terbang terbesar di dunia, melayang di sekitar gunung berapi Coropuna dan Ampato. Pengalaman ini justru ternyata terasa lebih istimewa saat dinikmati dalam suasana yang lebih sepi.
2. Melaka, Malaysia
Berjarak sekitar dua jam perjalanan dari Kuala Lumpur, Melaka menawarkan atmosfer berbeda dari ibu kota Malaysia yang serba cepat. Kota ini memiliki banyak sejarah dan arsitektur unik, namun dalam beberapa tahun terakhir kunjungan turisnya tidak seramai destinasi populer lain di negara tersebut.
Padahal, Melaka menyimpan banyak sudut menarik seperti bangunan kolonial berwarna cerah, gang-gang kecil klasik, hingga kawasan tepi sungai yang tenang. Kota ini juga menjadi salah satu lokasi favorit untuk berburu foto. Namun, perubahan minat wisatawan yang kini lebih memilih destinasi modern membuat Melaka terasa lebih lengang.
Meski sepi, pesona Melaka tetap hidup. Wisatawan masih bisa menyusuri sungai di pusat kota, menikmati kehidupan lokal, hingga mengunjungi Masjid Terapung Melaka yang menjadi ikon. Suasana yang lebih tenang justru membuat pengalaman menjelajah kota tua ini terasa lebih autentik.
3. Étretat, Prancis
Selanjutnya ada Étretat yang terletak di pesisir Normandia, Prancis Utara. Wilayah ini dikenal lewat tebing kapurnya yang menjulang di tepi Laut Inggris, ditambah dengan daya tariknya yaitu pemandangan lengkungan alami dan formasi batu berbentuk jarum yang dikenal sebagai Aiguille.
Meski menyimpan pemandangan spektakuler, Étretat kini tidak lagi sepadat destinasi pantai Prancis lainnya. Faktor cuaca, erosi alam, serta bergesernya minat wisatawan ke kota-kota besar membuat kunjungan ke wilayah ini perlahan menurun.
Bagi yang datang, Étretat tetap menawarkan pengalaman visual yang kuat. Jalur pejalan kaki di atas tebing tempat wisata ini menghadirkan panorama laut dan langit yang dramatis. Menghabiskan satu hari penuh di kawasan ini dijamin terasa cukup untuk menikmati keindahan alamnya tanpa perlu berdesakan dengan banyak turis.
4. Coffee Plantations, Hawaii
Hawaii selama ini identik dengan pantai dan resor tropis, namun wisata ke perkebunan kopi justru masih jarang dilirik. Padahal, Hawaii merupakan satu-satunya negara bagian Amerika Serikat yang memproduksi kopi secara komersial, dengan lima pulau yang memiliki kebun kopi aktif.
Kopi Kona yang tumbuh di wilayah ini dikenal sebagai salah satu kopi terbaik di dunia. Meski begitu, minat wisatawan untuk mengunjungi perkebunan kopi tidak sebesar kunjungan ke destinasi pantai, membuat kawasan ini relatif sepi.
Beberapa lokasi yang masih bisa dikunjungi antara lain perkebunan di Pulau Maui, seperti Estate Ka'anapali di Lahaina dan Maui Tropical Plantation di Waikapu. Di tengah suasana yang tenang, wisatawan dapat melihat langsung proses produksi kopi sekaligus menikmati sisi lain Hawaii yang lebih santai.
5. The Black Forest, Jerman
Black Forest atau Schwarzwald dulunya merupakan destinasi favorit kalangan elite Eropa pada akhir abad ke-19. Kawasan ini dikenal sebagai tempat peristirahatan alam dengan hotel-hotel mewah, sebelum kemudian berkembang menjadi tujuan wisata hiking dan ski.
Namun, perubahan gaya liburan pascaperang membuat wisatawan Eropa lebih memilih bepergian ke luar negeri, seperti Italia dan Spanyol. Ditambah dampak perubahan iklim yang membuat aktivitas ski semakin sulit, popularitas Black Forest perlahan menurun.
Saat ini, beberapa hotel lama bahkan terbengkalai. Meski begitu, hutan lebat, desa-desa kecil, dan jalur alam Black Forest masih menawarkan ketenangan yang sulit ditemukan di destinasi wisata modern. Kawasan ini tetap menjadi pilihan bagi pencari suasana alam yang sunyi dan klasik.
6. Snowbay Water Park, Indonesia
SnowBay Water Park yang berada di kawasan Taman Mini Indonesia Indah pernah menjadi destinasi favorit keluarga di Jakarta dan sekitarnya. Wahana seperti Hurricane dan Cool Running sempat menjadi daya tarik utama tempat ini yang dulunya selalu dipadati pengunjung.
Namun, pandemi COVID-19 menjadi titik balik bagi SnowBay. Sejak operasional dihentikan dan TMII diambil alih oleh pemerintah, taman wisata air ini tidak lagi dibuka untuk umum. Berdasarkan pantauan pada Januari 2022, kawasan SnowBay telah memasuki tahap pembangunan dan dialihfungsikan menjadi gedung parkir serta fasilitas pendukung lainnya. Meski sudah tidak beroperasi, SnowBay tetap menjadi bagian dari sejarah wisata keluarga di Jakarta yang pernah berjaya.
(Steffy Gracia/fik)

9 hours ago
3
















































