Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi
CNNIndonesia.comJakarta, CNN Indonesia --
Mungkin tidak ada yang lebih menyedihkan dari hidup kelas menengah Indonesia hari ini selain kenyataan bahwa mereka masih harus berpura-pura semuanya baik-baik saja.
Padahal tidak.
Gaji datang seperti numpang lewat: singgah sebentar, lalu habis sebelum bulan berganti. Harga-harga naik. Tabungan yang yang dulu disimpan untuk masa depan, kini perlahan habis dan menyusut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hidup bisa jadi mendadak terasa jauh lebih mahal, bahkan hanya untuk mempertahankan kehidupan yang biasa-biasa saja. Kelas menengah Indonesia hari ini hidup dalam kelelahan bertubi-tubi.
Salah satunya mungkin di Jakarta dan kota penyangganya.
Bangun pagi, menembus macet berjam-jam, bekerja delapan hingga sepuluh jam sehari, pulang malam dengan tubuh dan kepala yang sama-sama lelah. Lalu tidur, sambil memikirkan tagihan yang belum lunas.
Ada cicilan rumah yang menunggu dibayar. Cicilan kendaraan yang belum lunas. Biaya sekolah anak.
Lalu esok pagi semuanya dimulai lagi dari awal. Rutinitas yang berulang, bertahun-tahun, seolah hidup hanya bergerak dari satu tanggal gajian menuju tanggal gajian berikutnya.
Tetapi anehnya, meski bekerja lebih keras, hidup justru terasa makin jauh dari kata aman.
Dulu, rumah adalah simbol keberhasilan kerja. Hari ini justru terasa seperti kemewahan yang terus menjauh. Dua orang bekerja dari pagi sampai malam pun sering hanya mampu membeli tempat tinggal di ujung kota akibat harga rumah hari ini mencapai level yang sulit dijangkau.
KPR pun bukan lagi jalan kepemilikan, tetapi beban yang mengikat puluhan tahun. Sisanya dibayar dengan waktu, tenaga, dan hidup yang habis di jalan setiap hari.
Dahulu orang bekerja dengan keyakinan bahwa hidup bisa perlahan naik setingkat demi setingkat. Hari ini, banyak yang bekerja mati-matian bukan untuk naik kelas sosial, melainkan sekadar agar tidak jatuh ke bawah.
Dan di situlah tragedi terbesar kelas menengah Indonesia modern: mereka memang belum miskin, tetapi hidup setiap hari dalam kecemasan dan ketakutan.
Sejumlah komuter perempuan memadati gerbong Kereta Rel Listrik (KRL) di peron 3-4 Stasiun Manggarai, Manggarai, Jakarta Selatan, Rabu (29/4/2026). (CNN Indonesia/Febria Adha L)
Ekonomi tak menentu
Takut kehilangan pekerjaan di tengah ekonomi yang tak menentu. Cemas orang tua tiba-tiba sakit ketika biaya kesehatan makin mahal. Khawatir anak-anak mereka tak mendapat pendidikan yang layak untuk masa depan. Takut satu keadaan darurat datang dan menghapus seluruh tabungan.
Yang paling mereka takutkan sebenarnya sederhana: kehilangan hidup yang sudah dibangun dengan kerja keras, waktu, dan pengorbanan yang panjang.
Karena hidup kelas menengah sebenarnya berdiri di atas keseimbangan yang rapuh sekali. Data resmi menunjukkan sepanjang 2018-2025, sudah lebih dari 10 juta orang telah tergelincir keluar dari kelas menengah.
Rupiah yang semakin anjlok hari-hari ini seolah memperlihatkan dengan gamblang betapa tipis jarak antara hidup yang terasa aman dan hidup yang bisa sewaktu-waktu runtuh.
Dan mendadak harga apa pun terasa tidak masuk akal.
Makan siang lebih mahal. Kopi favorit naik harga. Biaya langganan aplikasi bertambah. Tiket pesawat terasa makin jauh dari jangkauan. Belanja bulanan mulai dihitung lebih hati-hati, satu per satu.
Hal-hal kecil mulai dikurangi diam-diam: tidak jadi liburan, mengurangi nongkrong, mengurungkan niat membeli tiket konser musisi favorit, hingga rencana punya anak.
Tanpa sadar, yang ikut ditunda bukan cuma kebutuhan atau keinginan, tetapi juga mimpi-mimpi tentang masa depan.
Sialnya, kelas menengah punya satu kutukan: mereka harus tetap terlihat mampu.
Padahal banyak yang diam-diam hidup dari gajian ke gajian. Banyak yang tabungannya sebenarnya tipis. Banyak yang, kalau kehilangan pekerjaan tiga bulan saja, dunia terasa ambruk.
Ada beban tambahan yang semakin berat: generasi sandwich.
Pekerja berjalan saat jam pulang kerja di kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta (CNNIndonesia/Adhi Wicaksono).
Sekitar 48-67 persen penduduk usia produktif kini menjadi generasi sandwich yang harus membiayai anak sekaligus orang tua dan diri sendiri. Generasi yang pendapatannya naik, tetapi daya belinya turun. Generasi yang terdidik, tetapi juga paling cemas menghadapi masa depan.
Dan negara bisa jadi tak melihat sepenuhnya kecemasan itu.
Di mata pemerintah sepertinya kelas menengah dianggap 'masih kuat'. Mereka dipuji sebagai penopang konsumsi nasional, pendongkrak pertumbuhan ekonomi, kelompok produktif yang dianggap akan selalu mampu bertahan sendiri.
Padahal justru kelompok inilah yang sesungguhnya rentan dan dilematis: tidak cukup miskin untuk mendapat bantuan, tetapi juga tidak cukup kaya untuk merasa aman.
Mereka membayar pajak dengan patuh, tetapi merasa Infrastruktur dan pelayanan publik belum sebanding dengan beban yang mereka tanggung.
Mata uang garuda yang terus melemah membuat pundak kelas menengah semakin berat. Sebab sesungguhnya yang sedang jatuh bukan hanya nilai tukar.
Yang ikut jatuh adalah rasa percaya bahwa hidup akan membaik.
Bahwa kerja keras akan terbayar. Bahwa menabung masih ada gunanya. Bahwa masa depan masih bisa direncanakan.
Hari-hari ini, banyak kelas menengah Indonesia mulai merasa hidup tak lagi soal mengejar mimpi. Melainkan sekadar bertahan agar tidak tergelincir.
(asa)
Add
as a preferred source on Google

17 hours ago
3

















































