Kenapa Iran Kini 'Jual Mahal' Negosiasi dengan AS?

4 hours ago 1

Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Amerika Serikat Donald Trump memutuskan untuk memperpanjang gencatan senjata dengan Iran tanpa batas waktu, setelah gencatan senjata tahap pertama berakhir pada Rabu (22/4).

Keputusan Trump memperpanjang gencatan senjata dilakukan pada Selasa (21/4) atau beberapa jam sebelum masa berlaku berakhir, demi memungkinkan kedua negara melanjutkan negosiasi damai.

Dalam sebuah pernyataan, Trump mengatakan bahwa dia telah menyetujui permintaan Pakistan selaku negara mediator, untuk menunda serangan lanjutan terhadap Iran.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia mengeklaim keputusannya memperpanjang gencatan senjata karena pemerintah Iran saat ini "sangat terpecah belah, dan itu tidak mengejutkan". Hal ini merujuk pada tewasnya beberapa pemimpin Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.

Sebelumnya pada Selasa (21/4), kantor berita semi-resmi Tasnim mengatakan Iran telah memberi tahu Pakistan bahwa mereka tidak akan mengirimkan delegasi untuk berbicara dengan AS.

"Terlepas dari semua pemberitaan media dan spekulasi oleh pejabat AS, tim negosiasi Iran, karena berbagai alasan, telah memberi tahu pihak AS lewat Pakistan, bahwa mereka tidak akan menghadiri pembicaraan di Islamabad," demikian laporan Tasnim.

"Untuk saat ini, tidak ada prospek untuk berpartisipasi dalam pembicaraan," lanjut laporan tersebut.

Lantas kenapa Iran seperti "jual mahal" untuk kembali bernegosiasi dengan AS?

Peneliti senior di Pusat Studi Strategis Timur Tengah, Abas Aslani, mengatakan AS entah bagaimana, telah salah menafsirkan musyawarah kelembagaan di Teheran sebagai keretakan atau perpecahan.

"Ada jalur yang jelas untuk keputusan sebesar ini," kata Aslani kepada Al Jazeera.

"Dan itu adalah Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, yang terdiri dari presiden, ketua parlemen, kepala kehakiman, anggota kabinet, dan komandan berpangkat tinggi. Mereka mengambil keputusan, dan biasanya, pemimpin mendukung keputusan tersebut," kata dia.

Aslani mengatakan ini bukanlah sesuatu yang diputuskan secara spihak oleh satu individu atau faksi. Dia menyebut ini adalah keputusan yang dibuat berdasarkan konsensus.

"Dalam kasus pergi ke Islamabad (Pakistan) dan bernegosiasi dengan AS, telah ada persatuan di antara berbagai pejabat dari reformis hingga konservatif, dari kabinet hingga lembaga pemerintah," kata Aslani.

"Semua sepakat untuk tidak pergi ke Islamabad, sampai AS mencabut blokade angkatan laut," imbuhnya.

Aslani menilai para pejabat Iran kemungkinan berpikir bahwa menghadiri pembicaraan, dengan blokade yang masih berlaku, akan menjadi tanda kelemahan.

"Dan itu akan menjadi lampu hijau bagi AS untuk melanggar ketentuan gencatan senjata, atau dengan cara apa pun untuk mundur dari kerangka negosiasi, yang dengan cara apa pun tidak akan kondusif untuk diskusi yang bermakna," ujar Aslani.

Sementara itu pakar kebijakan luar negeri AS, Barbara Slavin, menilai keputusan Trump memperpanjang gencatan senjata sebagai cara untuk menutupi rasa malu.

"Perang ini tidak berjalan seperti yang ia harapkan sejak awal, dan Iran telah menemukan daya tawar baru melalui kendalinya atas Selat Hormuz," ujar Slavin.

Ia menambahkan, Amerika seharusnya "melepaskan tuntutan maksimalisnya" dan menawarkan kepada Iran "semacam isyarat bahwa Washington sungguh serius mencari penyelesaian."

(dna)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Berita Olahraga Berita Pemerintahan Berita Otomotif Berita International Berita Dunia Entertainment Berita Teknologi Berita Ekonomi