Makassar, CNN Indonesia --
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman meminta pelaku usaha tidak menaikkan harga pestisida secara berlebihan di tengah tekanan biaya akibat konflik geopolitik di Timur Tengah. Ia menilai kenaikan harga masih bisa dikendalikan agar tidak membebani petani.
"Jadi kuantumnya kan tidak terlalu besar. Nah, aku minta juga seluruh pedagang pengusaha pestisida. Anda kan sudah untung puluhan tahun. Tolong dong mengabdi pada negara kita. Bolehlah untung, tapi jangan tinggi-tinggi," kata Amran di Gudang Bulog Panaikang, Makassar, Minggu (5/4).
Ia menegaskan pelaku usaha tetap diperbolehkan mengambil keuntungan, namun tidak berlebihan hingga memicu lonjakan harga yang signifikan di tingkat petani.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jangan ambil untung banyak. Sampai naikkan 30 persen. Kalau bisa jangan dinaikkan banyak-banyak," ujarnya.
Amran menyebut berdasarkan perhitungannya, kenaikan harga pestisida seharusnya masih dalam batas wajar dan tidak terlalu tinggi.
"Ya, kecil lah (kemungkinan kenaikan harga pestisida). Jangan naik banyak-banyak, 5 persen, 10 persen. Ini kan yang penting untung dulu," kata Amran.
Menurutnya, dibanding pestisida, komponen yang lebih krusial bagi petani justru pupuk. Pemerintah telah menyiapkan berbagai dukungan untuk sektor pertanian, mulai dari alat mesin pertanian (alsintan), pompanisasi, hingga irigasi, guna menjaga produktivitas.
"Yang paling berbahaya adalah pupuk. Nah, itu bahaya tuh. Pengolahan tanah, alat mesin pertanian kita sudah siapkan. Pompanisasi, itu bantuan pemerintah. Irigasi, bantuan pemerintah. Jadi, petani Indonesia aman," ujarnya.
Ia juga memastikan pemerintah menyiapkan dukungan tambahan, termasuk ketersediaan pestisida, sehingga petani tidak perlu terlalu khawatir terhadap potensi kenaikan harga.
"Ya kan, itu jumlahnya kecil. Tapi memang kita siapkan juga pestisida dari pemerintah. Jadi, enggak lah. Enggak usah khawatir," kata Amran.
Di sisi lain, tekanan kenaikan harga pestisida tidak lepas dari dampak konflik geopolitik global. Ketua Umum Asosiasi Produsen Pestisida Indonesia (APROPI) Yanurius Nunuhitu sebelumnya menyebut harga bahan aktif pestisida yang sebagian besar diimpor mengalami kenaikan seiring lonjakan harga minyak dunia.
"Kenaikan harga tidak bisa dihindari karena bahan aktif pestisida kita impor dari China dan hampir semuanya sensitif terhadap harga minyak. Harga bahan aktif sudah naik sejak dimulainya perang," ujar Yanurius kepada CNNIndonesia.com, Kamis (12/3).
Selain itu, sebagian besar formulasi pestisida menggunakan pelarut berbasis minyak, sehingga kenaikan harga energi global langsung meningkatkan biaya produksi. Komponen kemasan juga terdampak, karena hampir seluruh produk pestisida menggunakan plastik yang harganya ikut naik akibat gangguan pasokan petrokimia.
"Sejak Chandra Asri umumkan force majeure, harga kemasan plastik langsung naik. Hampir 99 persen formulasi pestisida dikemas dalam kemasan plastik," katanya.
Adapun konflik di Timur Tengah, terutama yang memengaruhi jalur distribusi energi seperti Selat Hormuz, mendorong kenaikan harga minyak dunia. Dampaknya menjalar ke berbagai sektor, termasuk bahan kimia dan plastik yang menjadi bahan baku pestisida, sehingga biaya produksi meningkat.
(del/mik)
Add
as a preferred source on Google

6 hours ago
5














































