Mengenal Aritmia, Deg-degan Bukan Berarti Jatuh Cinta

2 days ago 9

Daftar Isi

Jakarta, CNN Indonesia --

Jantung berdebar atau deg-degan sering kali dikaitkan dengan perasaan cemas atau jatuh cinta. Padahal, jantung deg-degan atau berdebar kencang bisa jadi tanda bahaya kesehatan. Apa itu?

Dokter Konsultan Intervensi Jantung dan Aritmia di Eka Hospital BSD Ignatius Yansen mengatakan kondisi ini bisa jadi tanda adanya gangguan irama jantung atau aritmia.

"Beberapa kali Anda mungkin merasakan jantung berdebar lebih cepat, terutama saat berolahraga atau sedang cemas. Namun, jika deg-degan muncul saat beristirahat atau berlangsung terus-menerus hingga menyebabkan nyeri dada, itu bisa menjadi tanda aritmia," kata Yansen dalam Media Talk yang diselenggarakan Eka Hospital di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (19/2).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Yansen menjelaskan, Aritmia adalah gangguan irama yang menyebabkan jantung berdetak tidak beraturan, bisa terlalu cepat atau dikenal dengan sebutan takikardia. Bisa juga terlalu lambat atau bradikardia.

"Gangguan ini terjadi akibat sinyal listrik di jantung yang terganggu, sehingga memengaruhi kemampuan jantung untuk memompa darah secara optimal," kata dia.

Yansen menyebut, irama jantung normal saat beristirahat berkisar antara 60-100 detak per menit. Anda bisa mengukurnya dengan meraba nadi di pergelangan tangan atau menggunakan alat seperti smartwatch, oximeter, atau tensimeter digital.

Jika detak jantung Anda masih dalam kisaran angka tersebut maka tidak perlu merasa khawatir. Namun, jika berada di bawah 60 detak bradikardia atau lebih dari 100 detak takikardia, ada kemungkinan Anda mengalami aritmia.

Gejala Aritmia

Aritmia memiliki berbagai jenis dengan gejala yang berbeda, namun secara umum, gejalanya meliputi:


• Jantung berdebar lebih cepat atau lebih lambat dari normal

• Pusing atau merasa melayang

• Pingsan tanpa sebab yang jelas

• Sesak napas

• Nyeri atau ketidaknyamanan di dada

• Kelelahan ekstrem

Penyebab Aritmia

Yansen menjelaskan bahwa gangguan aritmia terjadi karena ketidakseimbangan sinyal listrik yang mengontrol detak jantung. Beberapa penyebab utama meliputi:

• Ketidakseimbangan elektrolit dalam tubuh

• Riwayat serangan jantung

• Penyakit arteri koroner

• Gangguan pada struktur atau katup jantung

Ilustrasi sakit jantungIlustrasi. Waspada aritmia, gangguan irama jantung yang kerap disepelekan. (iStock/Nopphon Pattanasri)

• Diabetes dan tekanan darah tinggi

• Infeksi Covid-19

• Sleep apnea

• Stres, kecemasan, serta konsumsi alkohol atau kafein berlebih

• Penggunaan obat-obatan tertentu

Kata Yansen, Aritmia yang tidak ditangani dengan baik dapat menimbulkan komplikasi serius. Salah satu komplikasi yang mungkin terjadi adalah terbentuknya bekuan darah, yang dapat menyebabkan stroke.

"Selain itu, gagal jantung dan henti jantung mendadak juga menjadi risiko yang harus diwaspadai," kata dia.

Pengobatan Aritmia

Tidak semua aritmia memerlukan pengobatan, terutama jika tidak mengganggu aktivitas sehari-hari. Namun, jika diperlukan, terdapat beberapa metode pengobatan yang bisa dilakukan, seperti:

1. Konsumsi obat-obatan untuk mengontrol detak jantung.

2. Perubahan gaya hidup, seperti berhenti merokok, mengurangi konsumsi alkohol dan kafein, serta mengadopsi pola makan sehat.

3. Terapi medis, seperti ablasi jantung atau pemasangan ring jantung.

4. Penggunaan alat pacu jantung (pacemaker) bagi penderita aritmia yang parah.

"Jika Anda mengalami gejala yang mencurigakan, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter agar mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat," pungkas Yansen.

[Gambas:Video CNN]

(tis/tis)

Read Entire Article
Berita Olahraga Berita Pemerintahan Berita Otomotif Berita International Berita Dunia Entertainment Berita Teknologi Berita Ekonomi