Jakarta, CNN Indonesia --
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menyatakan putaran negosiasi berikutnya antara Amerika Serikat (AS) dan Iran akan dihelat dalam waktu dekat.
Melalui unggahan di media sosial X, Minggu (24/5), Sharif mengatakan dirinya beserta para pemimpin negara Muslim dan AS telah mengadakan pembicaraan telepon "yang sangat bermanfaat dan produktif" mengenai upaya perdamaian di Timur Tengah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menyiratkan pembicaraan tersebut bernuansa positif dan karenanya ia siap kembali menjadikan Islamabad tuan rumah untuk negosiasi damai AS-Iran.
"Saya mengucapkan selamat kepada Presiden Donald Trump atas upaya luar biasanya dalam mewujudkan perdamaian dan atas penyelenggaraan panggilan telepon yang sangat bermanfaat dan produktif hari ini, dengan para pemimpin Arab Saudi, Qatar, Turki, Mesir, Uni Emirat Arab, Yordania, dan Pakistan," tulis Sharif di X.
"Pakistan akan melanjutkan upaya perdamaiannya dengan ketulusan maksimal dan kami berharap dapat menjadi tuan rumah putaran pembicaraan berikutnya dalam waktu dekat," lanjut Sharif.
Dalam unggahan di akun Truth Social, Trump juga menyatakan bahwa kesepakatan dengan Iran "sebagian besar sudah dinegosiasikan", termasuk terkait pembukaan kembali Selat Hormuz.
Ia berujar nota kesepahaman (MoU) tentang perdamaian saat ini tinggal menunggu finalisasi dari pihak AS, Iran, maupun negara-negara terkait.
"Selain banyak elemen lain dari kesepakatan tersebut, Selat Hormuz akan dibuka," tulis Trump.
Trump juga mengaku telah bertelepon dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk membicarakan perkembangan ini.
"Aspek dan detail akhir dari kesepakatan saat ini sedang dibahas dan akan segera diumumkan," tulisnya.
Para pejabat Iran sebelum ini mengaku masih ada perbedaan pendapat antara kedua belah pihak dan bahwa perselisihan mengenai program nuklir Teheran tidak akan menjadi bagian dari pembicaraan.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, mengatakan ada "tren menuju pendekatan yang lebih baik", namun hal itu bukan berarti "kami dan Amerika Serikat akan mencapai kesepakatan mengenai isu-isu penting."
"Niat kami pertama-tama adalah untuk menyusun nota kesepahaman, semacam perjanjian kerangka kerja yang terdiri dari 14 klausul," katanya di televisi pemerintah.
Baqaei menambahkan bahwa ia berharap rincian perjanjian akhir dapat diselesaikan "dalam jangka waktu yang wajar antara 30 hingga 60 hari" setelah kerangka kerja tersebut diselesaikan.
(blq/fea)
Add
as a preferred source on Google

15 hours ago
6

















































