Trump Desak Iran Nyerah Imbas Keteteran Perang-Miskalkulasi, Benarkah?

6 hours ago 3

Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Amerika Serikat Donald Trump dinilai benar-benar salah perhitungan dalam memutuskan melancarkan perang melawan Iran sejak 28 Februari lalu.

Menurut profesor studi media di Doha Institute for Graduate Studies, Mohamad Elmasry, perhitungan Trump dalam perang melawan Iran, termasuk seruannya belakangan yang makin gencar mendesak Teheran "menyerah" itu didasarkan pada "kesalahan mendasar dalam membaca kalkulasi Iran".

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Elmasry bahkan menilai Iran kemungkinan mampu bertahan menghadapi gempuran Amerika setidaknya selama dua hingga tiga bulan ke depan dan bahkan mungkin lebih lama lagi

Menurut Elmasry justru Iran saat ini yang merasa memiliki daya tawar dan mampu memainkan strategi jangka panjang.

Berbicara kepada Al Jazeera, ia menilai keyakinan Washington bahwa blokade akan mendorong Iran ke dalam krisis penyimpanan minyak sebagai sesuatu yang "sangat dilebih-lebihkan".

"Lebih mungkin Iran akan terus menemukan cara-cara kreatif dan berbagai celah untuk mengatasinya, sehingga mereka kemungkinan bisa bertahan setidaknya dua atau tiga bulan, bahkan lebih lama," ujar Elmasry.

Ia merujuk pada laporan Iran terbaru berbasis data pelacakan satelit yang menyebut sekitar 52 kapal berhasil melewati blokade AS dalam waktu 72 jam.

"Pertanyaannya bukan lagi apakah Iran bisa bertahan. Pertanyaannya adalah, berapa besar biaya yang bersedia ditanggung Amerika Serikat? Karena dua atau tiga bulan tambahan bisa berdampak sangat merusak ekonomi AS dan ekonomi global," ucapnya lagi.

Elmasry menambahkan Iran bersedia menanggung tekanan ekonomi berat karena memandang perang ini sebagai krisis eksistensial.

"Orang Iran siap menanggung biaya ekonomi karena ini adalah pertarungan untuk kelangsungan hidup mereka," katanya.

"Jika mereka menerima syarat-syarat Trump, hari ini atau besok, dari sudut pandang mereka itu bisa berarti akhir dari Republik Islam."

Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf bahkan mengejek blokade laut yang diberlakukan Presiden Trump tidak mempan melemahkan negaranya.

Dalam unggahan berbahasa Inggris bernada sindiran di platform X-nya Rabu (29/4), Ghalibaf menertawakan strategi blokade minyak AS. Ia menyebut bahwa setelah tiga hari diberlakukan, tidak ada satu pun sumur minyak Iran yang "meledak" akibat tekanan yang diperkirakan meningkat karena ekspor yang terhambat.

Ghalibaf, mantan komandan militer yang menjabat sebagai Ketua Parlemen sejak 2020, bahkan secara sarkastik menantang Trump agar blokade diperpanjang hingga 30 hari dan disiarkan secara langsung.

"Sudah tiga hari berlalu, tidak ada satu pun sumur yang meledak. Kami bisa memperpanjang (blokade) hingga 30 hari dan menyiarkan langsung kondisi sumur di sini," kata Ghalibaf dalam kicauannya di X seperti dikutip Gulf News.

Dalam unggahannya, Ghalibaf juga menyalahkan "nasihat keliru" dari pejabat AS seperti Menteri Keuangan Scott Bessent yang mendorong teori blokade tersebut. Ia mengklaim kebijakan itu justru mendorong lonjakan harga minyak global hingga US$120 per barel, dengan US$140 disebut sebagai "tujuan berikutnya".

Pesan Ghalibaf jelas: alih-alih melumpuhkan Iran, kebijakan tersebut justru merugikan konsumen dan perekonomian Amerika Serikat.

"Inilah jenis saran buruk yang diterima pemerintahan AS dari orang-orang seperti Bessent, yang juga mendorong teori blokade dan justru mendongkrak harga minyak hingga di atas 120 dolar. Target berikutnya: 140. Masalahnya bukan pada teorinya, melainkan pada pola pikirnya," tutur pria 64 tahun itu menambahkan.

Ghalibaf berargumen bahwa masalahnya bukan terletak pada konsep blokade, melainkan pada "pola pikir arogan" Washington yang meremehkan ketahanan Iran.

(rds)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Berita Olahraga Berita Pemerintahan Berita Otomotif Berita International Berita Dunia Entertainment Berita Teknologi Berita Ekonomi