Jakarta, CNN Indonesia --
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendesak negara-negara Arab menandatangani kesepakatan normalisasi hubungan diplomatik dengan Israel yang dikenal Abraham Accords, sebagai bagian dari kesepakatan damai dengan Iran.
Dalam unggahan di media sosial buatannya, Truth Social pada Senin (25/5), Trump mengaku sudah berbicara dengan pemimpin negara-negara itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Setelah semua upaya yang dilakukan Amerika Serikat mencoba menyatukan teka-teki yang sangat kompleks ini, seharusnya wajib bagi semua negara ini, setidaknya secara bersamaan, untuk menandatangani Perjanjian Abraham (Abraham Accords)," tulis Trump, dikutip AFP.
Negara-negara yang dimaksud Trump adalah Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Pakistan, Turki, Mesir, Yordania, dan Bahrain. Trump juga mengatakan sebagian besar negara yang dia ajak bicara seharusnya sudah siap dengan kesepakatan tersebut.
Apa Itu Abraham Accord?
Abraham Accord adalah kesepakatan perdamaian (peace agreement) yang digagas oleh Donald Trump dengan tujuan negara-negara Arab mau melakuan normalisasi dengan Israel yang selama ini dinilai sebagai negara yang sering melakukan serangan kepada tetangganya.
Dikutip dari situs milik pemerintahan AS, deklarasi itu menyebutkan, "Kami, yang bertanda tangan di bawah ini, mengakui pentingnya menjaga dan memperkuat perdamaian di Timur Tengah dan di seluruh dunia berdasarkan saling pengertian dan koeksistensi, serta penghormatan terhadap martabat dan kebebasan manusia, termasuk kebebasan beragama.
Kami mendorong upaya untuk mempromosikan dialog antaragama dan antarbudaya untuk memajukan budaya damai di antara tiga agama Abraham dan seluruh umat manusia.
Kami percaya bahwa cara terbaik untuk mengatasi tantangan adalah melalui kerja sama dan dialog dan bahwa mengembangkan hubungan persahabatan antarnegara memajukan kepentingan perdamaian abadi di Timur Tengah dan di seluruh dunia.
Kami mengupayakan toleransi dan rasa hormat bagi setiap orang agar dunia ini menjadi tempat di mana semua orang dapat menikmati kehidupan yang bermartabat dan penuh harapan, apa pun ras, keyakinan, atau etnis mereka".
Itulah bunyi awal deklarasi itu. Namun apakah itu akan berhasil?
Omar Rahman peneliti di Baker Institute for Public Policy, yang berbasis di Rice Universitas Texas, AS mengatakan ada lima alasan proyek ini tidak akan mencapai tujuan.
pertama, proyek ini tidak memiliki nilai intrinsik. Kedua, terlalu bergantung pada AS, ketiga menimbulkan terlalu banyak risiko bagi negara-negara Teluk, keempat sangat tidak populer di Timur Tengah, dan kelima menghadapi hambatan dari konteks regional yang terus berubah.
Apalagi setelah serangan Israel ke Gaza yang menimbulkan korban lebih dari 70 ribu jiwa, Israel sangat negatif di negara-negara Arab bahkan sebagian dunia.
Mengutip hasil survei Arab Opinian Index pada 2022 silam, mengambil 14 wilayah negara-negara Arab, menyimpulkan bahwa 84 persen korespenden menolak hubungan diplomatik dengan Israel dan 8 persen yang setuju.
(imf/bac)
Add
as a preferred source on Google

4 hours ago
1


















































