
Oleh: Ketua DPW Gerakan Rakyat Sulawesi Selatan, Asri Tadda
FAJAR.CO.ID — Ada letupan kegelisahan rakyat yang selama ini dipendam begitu dalam—terhadap pejabat yang korup, aparat yang represif, dan legislator yang kian jauh dari suara konstituennya.
Semua itu semakin diperparah dengan kenyataan hidup rakyat yang kian berat: harga pangan mahal, pajak menjerat, daya beli merosot, dan roda ekonomi yang kian lesu.
Karena itu, peristiwa-peristiwa dalam beberapa hari terakhir harus menjadi momentum refleksi nasional. Kita perlu mengingat bahwa kesabaran rakyat ada batasnya.
Bahwa jabatan—baik sebagai anggota DPR/DPRD, pejabat publik, maupun aparat keamanan—bukanlah privilese, melainkan amanah.
Amanah untuk menjaga rakyat, meringankan beban mereka, dan memperjuangkan masa depan yang lebih baik, sebagaimana diamanatkan konstitusi. Jabatan itu bukanlah alat untuk menjauh dari rakyat, apalagi menjadi ancaman bagi rakyat yang justru menjadi sumber legitimasi dan pembayar pajak negeri ini.
Mari kita berdoa, semoga amarah rakyat ini segera mereda tanpa harus berujung pada anarki yang lebih banyak menimbulkan korban.
Semoga jeritan rakyat cukup terdengar sebagai peringatan yang sebenarnya. Semoga para pejabat, politisi, dan terutama aparat keamanan, membuka hati, menajamkan empati, dan kembali hadir sebagai bagian dari rakyat yang sesungguhnya.
Kepada para anggota DPR/DPRD, ingatlah. Rakyat menuntut kalian kembali sadar sebagai wakil sejati mereka. Tugas mulia kalian adalah memastikan bangsa ini berjalan di jalur konstitusi, demi terwujudnya masyarakat yang adil, makmur, dan diridhoi Allah SWT. Jangan sampai hanya diri dan keluarga kalian yang hidup dalam kemakmuran, sementara rakyat terjebak dalam kesengsaraan.
Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di: