Jakarta, CNN Indonesia --
Manuver Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengakhiri perang Rusia vs Ukraina membuat panik sejumlah negara sekutu AS di Eropa.
Trump pada Rabu (12/2) menelepon Presiden Rusia Vladimir Putin untuk membicarakan soal mengakhiri perang di Ukraina. Pada momen itu, keduanya pun berencana menggelar pertemuan di Arab Saudi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rencana pertemuan Trump dan Putin di Arab Saudi ini telah membuat waswas Eropa, apalagi Ukraina. Pasalnya, AS-Rusia tak mengajak Ukraina dan Eropa duduk bersama di meja perundingan.
Perang Rusia vs Ukraina sendiri pecah karena Kyiv ingin bergabung dengan NATO. Karena itu, Ukraina dan negara-negara NATO merasa perlu dilibatkan dalam pembicaraan damai.
Pada 13 Februari, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth semakin mengejutkan Eropa dan Ukraina dengan pernyataannya.
Dalam pidatonya di markas besar NATO di Brussels, Hegseth menyatakan bahwa Ukraina tidak bisa mengharapkan kedaulatan atas seluruh wilayahnya, yang beberapa di antaranya telah diduduki Rusia. Lebih dari itu, Hegseth juga mengatakan bahwa keanggotaan Ukraina di NATO harus disingkirkan, semata-mata demi dimulainya negosiasi damai dengan Rusia.
Menurut jurnalis Al Jazeera Leonid Ragozin, pernyataan ini secara efektif mencabut Piagam AS-Ukraina tentang Kemitraan Strategis yang menetapkan komitmen kedua negara terhadap integritas teritorial dan tidak dapat diganggu gugatnya perbatasan, serta identifikasi Ukraina ke dalam lembaga Euro-Atlantik seperti NATO dan Uni Eropa sebagai tujuan kebijakan prioritas.
Kenapa Trump 'mengkhianati' Ukraina?
Jika dilihat dari perspektif yang lebih luas, sejak awal, Trump tak menyukai sesuatu yang boros.
Begitu dilantik, dia menyerukan pemangkasan anggaran untuk hal-hal yang baginya tak perlu seperti bantuan kemanusiaan asing, pembuatan koin satu sen, hingga gaji pegawai pemerintah. Banyak staf yang kini telah dipecat, utamanya yang terikat kontrak.
Bukan cuma itu, Trump memulai kembali era perang dagang dengan mengenakan tarif ke berbagai produk impor, termasuk baja dan aluminium, yang dampaknya akan sangat terasa bagi Uni Eropa.
Ukraina menjadi salah satu faktor pemborosan anggaran yang dibidik Trump. Dalam wawancara pada Desember 2024, Trump mengaku ingin mengurangi dukungan militer AS kepada Ukraina.
Pada Rabu, hari yang sama dengan saat Trump menelepon Putin, Menteri Keuangan AS Scott Bessent bertandang ke Kyiv untuk mempresentasikan proposal agar AS bisa memiliki setengah dari mineral tanah jarang Ukraina.
Bessent menyodorkan proposal itu langsung kepada Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, demikian menurut delapan pejabat AS yang mengetahui pertemuan tersebut.
Dua pejabat AS mengatakan proposal ini merupakan permintaan agar Ukraina balas budi atas miliaran dolar senjata dan dukungan yang selama ini diberikan AS kepada Kyiv dalam perangnya melawan Rusia.
Sejak Februari 2022, Amerika Serikat telah memasok Ukraina dengan persenjataan dan lain-lain yang diperkirakan mencapai lebih dari $300 miliar (sekitar Rp4.865 triliun).
Dalam sebuah wawancara dengan Fox News, Trump menyatakan ingin agar AS mendapat mineral tanah jarang Ukraina senilai $500 miliar (sekitar Rp8.108 triliun) sebagai imbalan atas bantuan yang telah diberikan selama ini.
Dalam pertemuan dengan Bessent, Zelensky dilaporkan menolak proposal AS. Dia mengaku perlu mempelajari proposal tersebut dan akan berkonsultasi dengan orang lain mengenai hal itu.
Pada Sabtu (15/2), di sela-sela Konferensi Keamanan Munich, Zelensky pun blak-blakan menyatakan tak setuju dengan proposal Washington. Meski tidak menyebutkan langsung proposal itu, Zelensky menegaskan bahwa usulan AS tidak sejalan dengan kepentingan nasional Kyiv.
"Menurut saya, dokumen itu belum siap untuk melindungi kami, kepentingan kami," kata Zelensky.
Bersambung ke halaman berikutnya...