Review Film: Nosferatu

2 weeks ago 16

img-title

Bila tak ada aspek teknis yang indah dan akting gila Lily-Rose Depp, Nosferatu (2024) sebenarnya membosankan.

Jakarta, CNN Indonesia --

Nosferatu menjadi salah satu film horor dengan cita rasa berbeda yang pernah saya lihat. Tak banyak film horor yang memiliki cita rasa estetika seperti yang ditunjukkan Robert Eggers dan tim dalam film ini.

Saya bahkan lebih menikmati visual, penggunaan bahasa dalam dialog, kostum juga riasan, set dan desain produksi, hingga sinematografi dalam film ini dibanding dengan ceritanya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Cerita Nosferatu yang ditulis dan digarap Robert Eggers tak jauh berbeda dengan kisah-kisah si manusia penghisap darah lainnya yang berasal dari novel Bram Stoker. Hampir seluruh babak ceritanya pun tak berbeda.

Memang ada perbedaan cukup besar antara Nosferatu dan Dracula walau dari sumber yang sama, terutama dari level horor si makhluk jahat tersebut dan bagaimana mereka disampaikan secara visual kepada penonton.

Namun aspek teknis yang menonjol dalam Nosferatu (2024) ini terlalu indah untuk diabaikan. Bahkan bila tak ada aspek teknis tersebut, film ini sebenarnya membosankan.

Bayangkan saja, Nosferatu didominasi dengan warna terang bulan yang sendu dan cerita lambat dengan minim jumpscare selama lebih dari dua jam. Adrenalin saya jelas tak akan bisa sebergejolak Lily-Rose Depp saat kerasukan seperti pada film ini.

Meski begitu, Eggers melakukan keputusan tepat dalam menulis dan mengemas Nosferatu secara lebih teatrikal dan dramatis, dengan menekankan pada dialog, sorot kamera, eksploitasi ekspresi dan mimik, hingga permainan visual.

Nosferatu akan mengisahkan perjalanan seorang agen real estat Thomas Hutter bepergian ke Transilvania pada 1830-an. Ia pergi ke sana untuk bertemu dengan calon kliennya yang bernama Count Orlok.Review Nosferatu: Eggers konsisten dalam menerapkan unsur lawas dalam mengarahkan akting para pemainnya. Hal itu terlihat dari bagaimana interaksi terjalin antar karakter dalam film ini, terutama Lily-Rose Depp, Emma Corin, Nicholas Hault, dan Aaron Taylor-Johnson. (dok. Focus Features via IMDb)

Eggers mungkin sadar, tak banyak yang bisa ia lakukan dalam mengadaptasi kisah klasik Dracula (1897) milik Bram Stoker dan film klasik sumber segala film horor modern, Nosferatu: A Symphony of Horror (1922), yang juga adalah hasil adaptasi novel Stoker.

Kisah kedua karya tersebut sudah terlalu banyak diadaptasi, baik secara utuh, bebas bahkan ugal-ugalan, sampai cuma sepotong-sepotong saja. Termasuk, juga diadaptasi dalam berbagai bentuk karya.

Namun keindahan gaya bahasa yang digunakan Eggers dalam dialog ini menjadi poin lebih. Dengan mengacu gaya bahasa Inggris abad ke-19 yang ditambah bahasa Latin, Jerman, dan Romania, percakapan dalam film ini terasa lebih kaya dibanding film sejenis.

Eggers juga konsisten dalam menerapkan unsur lawas tersebut dalam mengarahkan akting para pemainnya. Hal itu terlihat dari bagaimana interaksi terjalin antar karakter dalam film ini, terutama Lily-Rose Depp, Emma Corin, Nicholas Hault, dan Aaron Taylor-Johnson.

Hal itu didukung dengan performa luar biasa dari Lily-Rose Depp. Depp membuktikan dirinya bukan hanya nepo-baby, tetapi memang memiliki darah seni akting dari kedua orang tuanya, Johnny Depp dan Vanessa Paradis.

Film Nosferatu (2024). (Focus Features LLC./Maiden Voyage Pictures via IMDb)Review Film Nosferatu (2024): Nosferatu didominasi dengan warna terang bulan yang sendu dan cerita lambat dengan minim jumpscare selama lebih dari dua jam. (Focus Features LLC./Maiden Voyage Pictures via IMDb)

Depp juga tak sungkan melakukan akting yang sangat menantang, seperti telanjang hingga kerasukan secara intens hingga membuat penonton ngilu. Hal itu menunjukkan totalitasnya sebagai aktris sekaligus pengaruh gaya Prancis yang kuat dari garis darah ibunya.

Bagi saya, Depp berhak untuk mendapatkan pengakuan lebih atas aktingnya berkat film ini. Bahkan, bagi saya aktingnya jauh lebih memukau dibanding Kara Sofia Gascon dalam Emilia Perez. Plus, Depp juga tak banyak kontroversi di luar urusan akting.

Meski begitu, saya yakin Depp akan memiliki lebih banyak peluang bagus di masa depan. Bukan tak mungkin, Depp akan mengikuti jejak ayahnya sebagai aktor karakter yang lihai dan mampu melumat seluruh karakter yang diberikan kepadanya.

Pemain berikutnya yang tampil memukau dalam film ini adalah Bill Skarsgard. Entah karena pengalamannya menjadi Pennywise atau memang ia terlahir untuk memerankan sosok monster, Count Orlok sangat cocok dimainkan oleh aktor Swedia ini.

Tapi mungkin juga karena Robert Eggers memilih tak menggambarkan Orlok sebagai makhluk tua kaku dan bermuka aneh seperti dalam film aslinya.

[Gambas:Youtube]

Robert Eggers memilih bentuk yang lebih seperti monster buruk rupa untuk sosok Count Orlok. Hal itu mengingatkan saya saat David Yates memutuskan menggambarkan Lord Voldemort dalam beberapa film terakhir saga Harry Potter.

Penggambaran Eggers itu pun tak akan bisa sempurna tanpa tim artistik, seperti tim rias dan kostum yang bekerja dengan sangat baik, prostetik yang apik, efek visual yang mulus, dan set produksi yang sangat menunjang cerita.

Selain dari aspek visual termasuk sinematografi yang indah karya Jarin Blaschke dan dibantu Louise Ford sebagai editor, hal yang saya suka dari Nosferatu adalah scoring dan tata suara yang dipimpin oleh Robin Carolan.

Carolan memberikan unsur creepy yang pas, sesuatu dari film horor yang saya rindukan di antara setumpuk karya estetis dalam Nosferatu. Bagi saya, scoring dari Carolan adalah yang tetap menyadarkan saya bahwa Nosferatu merupakan film horor.

[Gambas:Video CNN]

Terlepas dari aspek teknis, bagi saya, Nosferatu tetap bisa dinikmati baik dengan atau tanpa adegan seksual yang memang dibawa cukup banyak oleh Eggers. Eggers tampak ingin membawa unsur seksualitas sebagai 'mecin' dalam film ini, yang mana sebenarnya serupa-tapi-tak-sama dengan horor Indonesia beberapa dekade lalu.

Namun bagi saya, penampilan Lily-Rose Depp tetap sempurna tanpa harus bugil di depan kamera, serta kisah si vampir Orlok tetap menakutkan tanpa harus menunjukkan ada yang menjuntai dan membuat netizen kepo.

Hanya saja, seusai menyaksikan Nosferatu, saya sadar saya lebih butuh 'mecin' jumpscare dibanding seksualitas dalam film ini, sehingga saya bisa cukup ketakutan seperti anak-anak keluarga Harding setiap malam.

(end)

Read Entire Article
Berita Olahraga Berita Pemerintahan Berita Otomotif Berita International Berita Dunia Entertainment Berita Teknologi Berita Ekonomi