Jakarta, CNN Indonesia --
Industri mode identik dengan perubahan, dengan tren yang terus berganti. Di tengah teknologi yang terus berkembang, CFCL (Clothing for Contemporary Life) menjadi salah satu contoh di mana inovasi, semangat keberlanjutan, dan desain yang menarik bisa berjalan seiringan.
Label yang berbasis di Tokyo ini mendefinisikan ulang knitwear dengan menggabungkan keahlian tradisional dan teknologi rajut komputer 3D yang canggih. Dengan fokus pada keberlanjutan, kreasi CFCL mewujudkan pendekatan progresif.
CFCL sendiri didirikan oleh Yusuke Takahashi. Ia diketahui pernah bekerja untuk label Issey Miyake.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagai pembuka Paris Fashion Week, koleksi Fall/Winter 2025 CFCL VOL.10 mengeksplorasi konsep 'garis', sebuah referensi langsung dari buku LINES: A Brief History karya antropolog sosial Tim Ingold.
Ditampilkan di IRCAM, sebuah institusi riset musik dan suara beraliran avant-garde di kota Paris, koleksi ini memberikan penghormatan pada proses eksperimental dalam menciptakan pakaian yang sepenuhnya berbasis knitwear.
Seperti seutas benang saling bertaut membentuk tekstil yang kompleks, perjalanan CFCL adalah evolusi yang terus berlanjut, menyatukan teknologi, keberlanjutan, dan ekspresi artistik. Yusuke Takahashi melibatkan elemen itu, bahkan sebelum para model berjalan di runway.
"Seperti yang Anda dengarkan bunyi suara di awal, bunyi mesin rajut, mesin jahit, hingga mesin pewarna. Ini sangat penting sehingga kita bisa berpikir tentang proses produksi", terangnya kepada CNNIndonesia.com seusai show.
Setiap potongan dalam koleksi ini mencerminkan filosofi tersebut. Seri Metallic Tube, yang terdiri dari gaun dan atasan, menampilkan struktur unik yang dibuat dari poliester daur ulang dan benang metalik keemasan. Kombinasi ini menghasilkan efek tekstur transparan.
Sementara itu, seri Conic memukau dengan garis-garis tegas berwarna merah muda dan merah yang melebar dramatis ke bagian bawah. Lini Accordion, dengan lipatan yang berubah bentuk mengikuti gerakan pemakainya, dibuat menggunakan teknik rajutan berbasis program komputer.
Seri Herringbone menghadirkan pola zigzag yang mencolok, dibuat dari poliester daur ulang tebal dan wol.
Koleksi Fall/Winter 2025 CFCL yang dipamerkan di Paris Fashion Week. (CNN Indonesia/Fandi Stuerz)
Selain itu, seri Milan Round terinspirasi dari desain industri tahun 1980-an, dengan pakaian luar berisi bantalan grafis yang dibuat dari 100 persen poliester daur ulang. Hal ini menandai transisi CFCL menuju era mode yang baru, dengan zero waste sebagai landasan desainnya. Rajutan yang biasanya dikenal dengan tekstur monoton kini memiliki wajah baru.
"Untuk musim ini, itulah yang menjadi fokus kami, bagaimana menggunakan teknologi baru untuk menciptakan tekstur baru", ujarnya.
CFCL menjadi salah satu dari sedikit label fesyen yang menyerukan gerakan untuk menciptakan pakaian yang bertanggung jawab dan etis.
Pada tahun 2022, merek ini menjadi perusahaan pakaian Jepang pertama yang mendapatkan sertifikasi B Corp, membuktikan komitmennya terhadap perlindungan lingkungan dan kepedulian sosial.
Keberlanjutan diterapkan dalam setiap langkah produksi, mulai dari penggunaan bahan bersertifikasi Global Recycled Standard (GRS) dan Recycled Claim Standard (RCS) hingga tujuan mencapai netralitas karbon pada tahun 2030.
Per VOL.8 (Fall/Winter 2024), lebih dari 81 persen pakaian massal CFCL dibuat dari bahan daur ulang dan regeneratif, dengan target mencapai 100 persen pada akhir dekade ini.
Label ini melakukan life cycle assessment (LCA) pada produknya untuk mengukur dampak lingkungan. Tujuannya untuk memperluas cakupan evaluasi ini ke semua produk pada tahun 2025. Dengan pendekatan yang mengintegrasikan teknologi mutakhir dan praktik etis, CFCL menetapkan standar baru dalam mode berkelanjutan.
Knitwear telah lama diasosiasikan dengan kehangatan dan kenyamanan, tetapi CFCL mengangkatnya menjadi bentuk seni avant-garde.
Dengan memanfaatkan teknologi rajut berbasis komputer, merek ini menghilangkan limbah kain yang tidak perlu, memastikan konstruksi yang presisi dan tanpa jahitan.
Metode ini tidak hanya meningkatkan daya tahan dan fungsionalitas setiap pakaian, tetapi juga selaras dengan dedikasi CFCL dalam mengurangi jejak ekologisnya.
Koleksi Fall/Winter 2025 CFCL yang dipresentasikan di Paris Fashion Week. (CNN Indonesia/Fandi Stuerz)
CFCL melihat knitwear sebagai platform untuk inovasi yang berkelanjutan, sebuah 'laboratorium progresif' di mana teknik tradisional direkonstruksi melalui perspektif modern.
Dengan merangkul minimalisme, tanggung jawab, dan keahlian, CFCL menciptakan pakaian yang melampaui tren musiman, menawarkan desain abadi yang sesuai dengan gaya hidup kontemporer.
Koleksi VOL.10 CFCL menarik karena teknik yang digunakan untuk mendorong batasan knitwear. Saat industri mode menghadapi kebutuhan mendesak untuk produksi yang lebih bertanggung jawab dan kesadaran lingkungan, CFCL menjadi simbol perubahan.
(asr/asr)